![]() |
| Potret M. Rayhan Pradipta Laksanakan Salat Duha di Rumahnya, Sabtu (27/12/2025). |
Syahrial Azmi, S. Pd. I., selaku Wali Kelas VI-C, memegang peranan penting dalam menanamkan nilai-nilai disiplin ibadah ini. Dalam setiap kesempatan di kelas, beliau selalu menekankan agar para murid tidak pernah meninggalkan shalat fardu lima waktu. Lebih jauh lagi, beliau mendorong para siswa untuk melengkapi kewajiban tersebut dengan ibadah sunnah seperti shalat Duha. Beliau berpesan agar setiap anak menyempatkan waktu sejenak untuk bersujud kepada Allah SWT di tengah kesibukan harian. Pesan bermakna dari sang guru inilah yang menjadi pemacu semangat bagi Rayhan untuk terus taat beribadah.
Dari sudut pandang lingkungan keluarga, orang tua Rayhan menjadi pilar pendukung utama yang memfasilitasi kebiasaan baik ini di rumah. Mereka memastikan bahwa instruksi dan motivasi yang diberikan oleh guru di sekolah dapat terwujud dalam tindakan nyata. Orang tua Rayhan selalu menyediakan waktu dan ruang yang nyaman bagi putra mereka untuk berdialog dengan Sang Pencipta melalui shalat. Kerja sama yang harmonis antara orang tua dan pihak madrasah menciptakan sebuah ekosistem pendidikan yang ideal bagi anak. Tanpa dukungan di rumah, nilai-nilai yang diajarkan di sekolah mungkin hanya akan menjadi sekadar teori bagi siswa.
Kepala MIN 9 Langkat, Sopian, S. Pd. I., M. Sos., juga senantiasa memberikan pengaruh positif melalui kebijakan moral di lingkungan madrasah. Beliau secara rutin mengajak seluruh murid untuk menyempatkan diri melaksanakan shalat Duha di pagi hari sebagai pembuka pintu keberkahan. Menurut beliau, membiasakan anak bersujud di waktu Duha akan membentuk ketenangan jiwa dalam menyerap setiap pelajaran. Visi kepemimpinan beliau memang difokuskan pada penguatan akhlak dan spiritualitas seluruh peserta didik di MIN 9 Langkat. Melalui ajakan yang konsisten, beliau berharap seluruh siswa memiliki karakter religius yang kuat sebagaimana yang ditunjukkan oleh Rayhan.
Rutinitas shalat Duha yang dijalankan Rayhan bukan sekadar ritual formal, melainkan sarana melatih kedisiplinan diri sejak dini. Setiap gerakan shalat yang dilakukan secara rutin di rumah membantu Rayhan dalam mengatur waktu dengan lebih efisien. Ia belajar untuk memprioritaskan hubungan dengan Tuhan sebelum memulai segala aktivitas duniawi lainnya. Hal ini secara tidak langsung berdampak pada kemandiriannya dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah yang diberikan oleh para guru. Kedisiplinan beribadah ternyata berbanding lurus dengan peningkatan kualitas disiplin belajar siswa di dalam maupun di luar kelas.
Para tetangga dan lingkungan di sekitar tempat tinggal Rayhan turut merasakan dampak positif dari perilaku santun siswa madrasah ini. Rayhan dikenal sebagai sosok yang ramah dan selalu menunjukkan akhlakul karimah kepada siapa saja yang ia temui. Ketenangan batin yang didapatkan dari shalat Duha terpancar dalam kesehariannya yang penuh dengan tutur kata yang baik. Banyak orang tua di sekitar rumahnya yang menjadikan Rayhan sebagai contoh teladan bagi anak-anak mereka. Pengaruh positif ini membuktikan bahwa ibadah seseorang mampu membawa manfaat sosial bagi lingkungan yang lebih luas.
Dari kacamata pendidikan, apa yang dilakukan oleh Rayhan merupakan keberhasilan dari kurikulum berbasis karakter yang diterapkan MIN 9 Langkat. Sekolah tidak hanya mengejar target nilai akademik di atas kertas, tetapi juga memantau perkembangan spiritual para siswa. Monitoring yang dilakukan oleh wali kelas melalui komunikasi dengan orang tua memastikan perkembangan positif ini tetap terjaga. Rayhan menjadi salah satu bukti bahwa siswa madrasah mampu menjadi mercusuar kebaikan di tengah tantangan zaman. Keberhasilan ini tentu menjadi motivasi besar bagi seluruh tenaga pendidik untuk terus memberikan yang terbaik.
Rayhan sendiri mengaku merasa jauh lebih tenang dan fokus dalam belajar setelah melaksanakan shalat sunnah di pagi hari. Ia merasa bahwa dengan bersujud sejenak, beban pikiran dan rasa malas dapat hilang seketika digantikan oleh energi positif. Shalat Duha menjadi momen bagi dirinya untuk berdoa dan memohon kelancaran dalam menuntut ilmu di madrasah. Kesaksian tulus dari Rayhan ini menunjukkan bahwa agama memberikan solusi bagi kesejahteraan mental seorang pelajar. Pengalaman spiritual ini akan terus ia bawa sebagai pedoman hidup hingga ia beranjak dewasa nanti.
Sebagai penutup, kisah inspiratif dari M. Rayhan Pradipta ini menegaskan pentingnya keterlibatan semua pihak dalam mendidik anak. Sinergi antara Kepala Madrasah, Wali Kelas, dan Orang Tua telah berhasil menciptakan sosok siswa yang soleh dan berdedikasi. Harapan besar tertumpang pada pundak Rayhan agar ia tetap istikamah dalam menjalankan kebaikan ini di masa-masa mendatang. Semoga lebih banyak lagi siswa MIN 9 Langkat yang mengikuti jejak positif ini demi kemajuan agama dan bangsa. Keberhasilan ini adalah kemenangan bersama bagi dunia pendidikan Islam di Kabupaten Langkat. (Fr)

Komentar
Posting Komentar