Upacara Perdana MIN 9 Langkat, Pembina Tekankan Pentingnya Budaya Malu

 

Potret Upacara Bendera di MIN 9 Langkat, Senin (20/7/2026).

Langkat (Humas) - Senin (20/7/2026). Suasana penuh semangat menyelimuti halaman Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 9 Langkat pada Senin pagi. Seluruh peserta didik, guru, serta staf tenaga kependidikan berkumpul bersama dalam rangka melaksanakan kegiatan upacara bendera pertama di awal Tahun Ajaran Baru 2026/2027. Kegiatan yang berlangsung secara tertib dan khidmat ini diikuti oleh seluruh jenjang kelas, mulai dari siswa kelas rendah hingga kelas tinggi. Sejak pagi hari, para siswa tampak antusias mengenakan seragam lengkap dan berbaris rapi di lapangan madrasah.


Pada kesempatan upacara perdananya di tahun ajaran baru ini, para siswa dari Kelas VI-A dipercaya bertindak sebagai petugas upacara bendera. Dengan tingkat kedisiplinan dan latihan yang matang, para petugas dari Kelas VI-A berhasil menjalankan tugasnya dengan sangat baik, mulai dari pemimpin upacara, petugas pengibaran bendera Merah Putih, pembacaan UUD 1945, Ikrar Pelajar dan doa memimpin jalannya barisan.


Bertindak sebagai Pembina Upacara yakni Analisa, S.Pd., salah satu guru di MIN 9 Langkat. Dalam amanatnya, beliau menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh siswa yang kembali beraktivitas di sekolah, serta secara khusus menyambut para peserta didik baru yang telah diterima menjadi bagian dari keluarga besar madrasah.


"Selamat datang kami ucapkan kepada seluruh anak-anak kami di MIN 9 Langkat untuk memasuki Tahun Ajaran Baru 2026/2027. Secara khusus, kami mengucapkan selamat atas diterimanya anak-anak kami peserta didik baru di Kelas 1. Selamat bergabung dan mari kita belajar bersama dengan penuh semangat di madrasah yang kita cintai ini," ujar Analisa dalam pembukaan amanatnya.


Selain memberikan sambutan hangat, Analisa memanfaatkan momen upacara ini untuk menekankan pentingnya pembentukan karakter peserta didik melalui penanaman nilai kedisiplinan. Beliau secara khusus menyoroti topik mengenai penanaman "Budaya Malu" yang dinilai sangat krusial untuk diterapkan oleh seluruh siswa dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan madrasah maupun di luar sekolah.


Dalam pidatonya di hadapan ratusan siswa, Analisa interaktif bertanya kepada para peserta upacara guna memfokuskan perhatian mereka. "Apakah anak-anak sekalian tau apa itu malu? Malu bukan berarti kita takut, melainkan malu jika kita melakukan hal-hal yang tidak terpuji atau melanggar aturan yang ada," tutur Analisa menegaskan makna positif dari sikap malu tersebut.


Guna memudahkan pemahaman para siswa, beliau memaparkan enam poin utama penerapan budaya malu. Poin pertama adalah malu datang terlambat dengan membiasakan diri hadir tepat waktu. Poin kedua yakni malu saat berbicara kasar, di mana sesama teman wajib saling menghormati dan tidak mengeluarkan kata-kata kotor. Poin ketiga mencakup malu jika tidak mau mengerjakan tugas dari guru seperti Pekerjaan Rumah (PR).


Melanjutkan amanatnya, Analisa memaparkan poin keempat yaitu rasa malu apabila tidak mendengarkan guru yang sedang menjelaskan pelajaran di depan kelas. Poin kelima adalah malu jika tidak memakai seragam sekolah yang sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan madrasah. Sementara pada poin keenam, beliau menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dengan merasa malu jika tidak membuang sampah pada tempatnya.


Mengakhiri amanatnya, Analisa berharap agar seluruh poin karakter tersebut tidak hanya didengar, tetapi sungguh-sungguh dipraktikkan dalam keseharian. "Mudah-mudahan anak-anak kami sekalian bisa melaksanakan budaya malu ini secara konsisten. Jika budaya ini tertanam kuat, kalian tidak hanya menjadi siswa yang cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki akhlakul karimah yang membanggakan," pungkasnya penuh harapan. (Fr)

Komentar